SERANG,BANTEN,sijibanten.com — Seorang warga Kampung Mundu RT 06 RW 01, Desa Pasirbuyut, Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang, Banten, Santinah, meminta kejelasan dan pertanggungjawaban dari pihak pengelola kawasan industri Centra Brasindo Abadi Chemical (CBA) serta pihak terkait pembangunan pabrik PT Yinpeng.
Permintaan tersebut disampaikan Santinah saat ditemui pada Sabtu (3/10/2026). Ia didampingi putranya, Amang (40), dan mengaku khawatir kondisi tanah miliknya yang berbatasan langsung dengan lokasi pembangunan semakin mengalami pergeseran atau longsor, terlebih saat memasuki musim penghujan.
Menurut Santinah, sekitar delapan bulan lalu pihak pengelola kawasan melakukan pekerjaan cut and fill untuk persiapan pembangunan pabrik PT Yinpeng. Setelah pekerjaan tersebut berlangsung, tanah miliknya yang berbatasan dengan lokasi proyek mengalami pergeseran dan longsor.
“Akibat pekerjaan cut and fill, tanah milik saya yang berbatasan dengan lokasi pembangunan mengalami longsor dan bergeser. Kami sudah meminta agar segera dibangun dinding penahan tanah (DPT), tetapi sampai sekarang belum terealisasi,” ungkap Santinah.
Santinah mengatakan, sejak awal pekerjaan cut and fill, dirinya bersama anak dan menantunya telah menyampaikan kekhawatiran kepada sejumlah perwakilan pengelola kawasan, di antaranya Cahyo, Joni, dan Basri.
Menurutnya, permintaan pembangunan DPT telah beberapa kali disampaikan karena kondisi tanah dinilai berpotensi longsor ketika memasuki musim hujan.
Namun, Santinah mengaku hanya menerima janji bahwa pembangunan DPT akan segera dilakukan.
“Kami sudah meminta dari awal supaya dibangun DPT karena sebentar lagi musim hujan. Jawabannya iya, iya, secepatnya akan dibangun. Tapi sampai tanah longsor seperti sekarang, tidak ada realisasinya. Memangnya longsor bisa dijanjikan?” ujar Santinah dengan nada kecewa.
Bambu Disebut Belum Menyelesaikan Persoalan
Tidak hanya kepada pengelola kawasan, Santinah juga mengaku telah menyampaikan keluhan kepada pihak pelaksana pekerjaan cut and fill yang disebutnya Dian dan kawan-kawan.
Namun, menurut Santinah, langkah yang dilakukan bukan pembangunan DPT, melainkan pemasangan sejumlah bambu di sekitar area tanah yang mengalami pergeseran.
“Kalau bambu bisa menahan longsor, buktinya sekarang tetap longsor. Kami membutuhkan solusi yang benar-benar bisa mengamankan tanah dan rumah keluarga,” tegasnya.
Santinah juga menyayangkan minimnya perhatian dari lingkungan pemerintahan setempat. Ia mengaku telah berupaya menyampaikan persoalan tersebut, namun menurutnya belum memperoleh penyelesaian yang diharapkan.
Keluhan Disebut Berpindah dari Satu Pihak ke Pihak Lain
Santinah dan keluarganya juga mengaku mengalami kesulitan ketika meminta penjelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab atas kondisi tersebut.
Menurut Santinah, ketika menyampaikan keluhan, dirinya diarahkan kepada sejumlah pihak, mulai dari perwakilan pengelola kawasan, pihak PT Alfacon, hingga pihak yang mengerjakan pemagaran PT Yinpeng dan bagian hubungan masyarakat perusahaan.
Kondisi tersebut, menurut Santinah, membuat dirinya merasa persoalan tersebut seolah-olah berpindah dari satu pihak kepada pihak lainnya tanpa penyelesaian konkret.
“Kami hanya ingin ada kejelasan. Tanah kami semakin longsor, sementara di atas tanah tersebut ada rumah saya, rumah anak, menantu dan keluarga. Kami khawatir kalau dibiarkan akan semakin parah,” katanya.
Tembok Pagar Roboh, Kekhawatiran Warga Meningkat
Kekhawatiran Santinah semakin meningkat setelah pada Kamis (1/10/2026) ia mengaku menyaksikan adanya tembok pagar di sekitar kawasan yang roboh akibat angin kencang.
Menurut keterangannya, kejadian tersebut juga menyebabkan seorang karyawan yang pulang bekerja terkena puing bangunan.
Santinah mempertanyakan konstruksi tembok pagar tersebut. Ia menduga terdapat bagian konstruksi yang tidak menggunakan pengikat sebagaimana yang menurutnya diperlukan untuk memperkuat tembok.
Namun, terkait dugaan teknis konstruksi tersebut, diperlukan pemeriksaan lapangan oleh pihak yang memiliki kompetensi teknis untuk memastikan penyebab robohnya bangunan.
Warga Minta DPT Segera Dibangun
Atas kondisi tersebut, Santinah bersama keluarganya meminta pihak pengelola kawasan CBA dan PT Yinpeng segera mengambil langkah nyata untuk mengamankan lokasi, khususnya pada bagian tanah yang mengalami longsor.
Menurutnya, pembangunan dinding penahan tanah diperlukan untuk mencegah pergerakan tanah semakin meluas dan mengurangi risiko terhadap rumah-rumah warga yang berada di sekitar lokasi.
“Sekarang sudah masuk musim penghujan. Kami tidak ingin menunggu sampai terjadi sesuatu yang lebih besar. Yang kami minta hanya keselamatan rumah dan keluarga kami,” ungkapnya.
Media Konfirmasi Pihak Perusahaan
Sebelum berita ini diterbitkan, pihak media berupaya melakukan konfirmasi kepada pengelola kawasan CBA melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp kepada Cahyo. Namun hingga berita ini disusun, belum diperoleh tanggapan.
Media juga menghubungi pihak perusahaan yang berada di sekitar rumah Santinah. Petugas keamanan yang menerima komunikasi kemudian mengarahkan media untuk menghubungi bagian humas perusahaan.
Sementara itu, Hidayat atau yang akrab disapa Goyat, yang disebut sebagai Kepala Desa Pasirbuyut sekaligus humas perusahaan PT Yinpeng, memberikan penjelasan terkait kondisi lahan tersebut.
Menurut Hidayat, lahan yang berada di antara tembok pagar dan tanah warga memang sengaja diberikan ruang dan direncanakan untuk dijadikan taman penghijauan.
“Untuk lokasi tanah yang belum dibangun itu akan dibuat taman penghijauan. Makanya antara tembok pagar dan tanah warga ada space beberapa meter yang dikosongkan karena akan dibuat taman,” jelas Hidayat.
Penjelasan tersebut menjadi bagian dari informasi yang perlu diperhatikan dalam melihat persoalan di lapangan. Namun demikian, mengenai kondisi tanah yang mengalami longsor, kebutuhan pembangunan DPT, serta aspek keselamatan konstruksi, masih diperlukan penjelasan teknis dan pemeriksaan langsung dari pihak yang berwenang.
Warga berharap seluruh pihak terkait tidak saling melempar tanggung jawab dan dapat segera melakukan langkah pengamanan sebelum kondisi tanah semakin parah akibat curah hujan.
Haris Ranau





0 Komentar