Selamat Datang Di Website Resmi, SUARA INDEPENDEN JURNALIS INDONESIA

Di Tengah Polemik Pelayanan Puskesmas Jawilan, Anak Penderita Gizi Buruk Meninggal Dunia, Keluarga Harap Perhatian Pemerintah

 

Serang, banten.siji.or.od. 9 Juni 2026 – Di tengah polemik yang berkembang terkait menurunnya kepercayaan sebagian masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di Puskesmas Jawilan, kabar duka datang dari keluarga Endang (75), warga Kampung Curug Kuda RT 001/RW 002, Desa Majasari, Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang.

Agung, putra kedua Endang yang disebut mengalami gizi buruk, dilaporkan meninggal dunia pada Senin (8/6/2026). Kepergian Agung menambah beban yang harus ditanggung keluarga, karena masih terdapat dua anak lainnya yang membutuhkan perhatian dan perawatan kesehatan secara rutin.

Endang menuturkan bahwa putra pertamanya, Anriansah, menderita talasemia dan harus menjalani kontrol kesehatan secara berkala. Sementara itu, Angga Setiawan, saudara kembar almarhum Agung, juga disebut mengalami kondisi kesehatan yang memerlukan penanganan dan pemantauan rutin. Menurut Endang, kedua anaknya harus menjalani pemeriksaan dan kontrol setiap tiga minggu sekali.

Di tengah keterbatasan ekonomi sebagai pekerja serabutan, Endang mengaku bersyukur atas bantuan yang selama ini diberikan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Serang sebesar Rp750 ribu setiap tiga bulan. Meski demikian, ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi keluarganya, mengingat kebutuhan pengobatan dan kontrol kesehatan kedua anaknya masih terus berlangsung.

"Alhamdulillah selama ini ada bantuan dari Baznas. Tapi saya masih berharap ada perhatian dan bantuan dari pemerintah karena anak-anak saya masih harus berobat dan kontrol rutin," ujar Endang.

Sementara itu, sejumlah aktivis mahasiswa dan masyarakat menilai bahwa persoalan pelayanan kesehatan harus menjadi perhatian serius seluruh pihak. Menurut mereka, kritik yang disampaikan masyarakat seharusnya dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pelayanan publik, khususnya di bidang kesehatan.

Mereka berpendapat bahwa munculnya berbagai narasi pembelaan diri dari pejabat di tengah kritik publik justru berpotensi memperbesar kekhawatiran masyarakat. Aktivis menilai langkah yang lebih dibutuhkan saat ini adalah evaluasi menyeluruh dan perbaikan pelayanan agar kepercayaan masyarakat dapat kembali pulih.

"Ketika masyarakat menyampaikan kritik, yang dibutuhkan adalah evaluasi dan pembenahan. Jika kritik lebih banyak dijawab dengan narasi pembelaan diri, dikhawatirkan kepercayaan publik terhadap pelayanan kesehatan akan semakin menurun," ujar salah seorang aktivis mahasiswa.

Hingga berita ini ditulis, masyarakat masih menantikan langkah konkret dari instansi terkait untuk memastikan pelayanan kesehatan di wilayah Jawilan berjalan optimal serta mampu menjangkau warga yang membutuhkan penanganan dan pendampingan kesehatan secara berkelanjutan.

Tim

0 Komentar