Selamat Datang Di Website Resmi, SUARA INDEPENDEN JURNALIS INDONESIA

“Banten Darurat Keadilan: Buruh Dieksploitasi, Pendidikan Kian Timpang”


SerangBanten.siji.or.id. Momentum May Day dan Hari Pendidikan Nasional 2026 bukan lagi sekadar seremoni. Di Provinsi Banten, dua peringatan ini justru membuka realitas pahit, eksploitasi buruh yang terus berlangsung dan sistem pendidikan yang semakin menjauh dari keadilan sosial.

PKC PMII Banten menilai, di balik statusnya sebagai kawasan industri strategis, Banten justru menyimpan krisis struktural yang menyasar dua sektor fundamental. ketenagakerjaan dan pendidikan. 

INDUSTRI TUMBUH, BURUH TERTEKAN

Di wilayah industri seperti Kabupaten Serang, praktik pungutan liar (pungli) dalam rekrutmen kerja bukan lagi isu tersembunyi. Fakta di lapangan menunjukkan calon pekerja dipaksa membayar hingga Rp5–10 juta untuk mendapatkan pekerjaan.

Lebih dari sekadar pelanggaran administratif, praktik ini merupakan pemerasan sistematis terhadap rakyat kecil.

Di saat yang sama.

Upah di bawah UMK masih terjadi

Sistem outsourcing terus melanggengkan ketidakpastian kerja

Buruh diposisikan sebagai komoditas, bukan manusia

“Pungli, outsourcing, dan upah murah adalah satu paket eksploitasi yang saling terhubung,” tegas PMII. Sabtu 2/5/2026.

PENDIDIKAN MAKIN JAUH DARI KEADILAN

Di sektor pendidikan, kondisi tak kalah mengkhawatirkan.

Pandeglang

42.415 anak tidak sekolah (2026)

Ribuan siswa putus sekolah akibat kemiskinan struktural

Guru honorer hidup dalam ketidakpastian, bahkan terancam PHK

Kabupaten Tangerang

Sekitar 21.000 anak putus sekolah

Gaji guru honorer ada yang di bawah Rp500 ribu

Kekurangan tenaga pendidik masih tinggi

Kota Serang

Kebijakan pendidikan dinilai tidak tepat sasaran

Distribusi bantuan seperti KIP dinilai bermasalah

Wacana penghapusan jurusan mengancam kebebasan akademik

CILEGON: INDUSTRI BESAR, DAMPAK BESAR

Sebagai kota industri, Cilegon menghadapi kontradiksi serius:

Beasiswa ada, tapi tidak merata dan rawan politisasi

Industri masuk, tapi tidak menyerap tenaga kerja lokal secara maksimal

Polusi meningkat, kasus ISPA mengancam kesehatan warga

Infrastruktur rusak akibat truk ODOL dan aktivitas industri

Pembangunan dinilai lebih berpihak pada modal, bukan rakyat.

KESIMPULAN: KRISIS TERSTRUKTUR

PMII menilai seluruh persoalan ini saling berkaitan.

Upah rendah → anak putus sekolah

Pendidikan mahal → kemiskinan berulang

Guru tidak sejahtera → kualitas pendidikan menurun

“Jika dibiarkan, Banten akan melahirkan generasi tanpa masa depan di tengah kemegahan industri,” bunyi pernyataan sikap.

TUNTUTAN PMII BANTEN

1. Ketenagakerjaan

Hapus pungli rekrutmen, tindak tegas pelaku

Tegakkan UMK tanpa kompromi

Hapus sistem outsourcing

Perkuat pengawasan transparan

2. Pendidikan

Tangani putus sekolah secara serius

Pastikan beasiswa tepat sasaran

Sejahterakan dan angkat guru honorer

Bangun fasilitas pendidikan merata

3. Infrastruktur & Lingkungan

Tertibkan truk ODOL

Percepat perbaikan Jalan Lingkar Selatan

Tindak tambang ilegal

4. Kesehatan

Tangani dampak ISPA akibat polusi industri

Wajibkan tanggung jawab lingkungan industri

5. Arah Pembangunan

Ubah orientasi dari padat modal → padat karya

Pastikan investasi berdampak langsung ke rakyat

Libatkan publik dalam pengawasan

PERUBAHAN TIDAK AKAN DATANG SENDIRI”

PMII menegaskan, kondisi ini bukan untuk dinormalisasi.

Dibutuhkan keberanian, tekanan publik, dan aksi kolektif untuk memaksa negara hadir.

Sumber: PMII

Editor.  : DN

0 Komentar