Selamat Datang Di Website Resmi, SUARA INDEPENDEN JURNALIS INDONESIA

Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat: Antara Tema dan Kenyataan



Hari Pers Nasional kembali hadir dengan deretan tema besar. Tahun ini, tajuknya terdengar megah: “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat.” Kalimatnya nyaris sempurna. Sayangnya, realitas di lapangan sering kali tak semegah bunyinya.

Pers kerap disebut sebagai pilar demokrasi. Namun pilar yang rapuh jelas sulit menopang apa pun. Di tengah tekanan politik, himpitan ekonomi, dan gempuran platform digital global, banyak media justru sibuk bertahan hidup—bukan sepenuhnya bertahan pada idealisme. Integritas masih dijunjung, tentu saja. Setidaknya di atas kertas.

Pers yang sehat bukan hanya bebas dari tekanan kekuasaan, tetapi juga bebas dari kepentingan pemilik modal, jebakan klik murahan, serta judul bombastis tanpa substansi. Kenyataannya, ketika pendapatan iklan terus menurun dan algoritma lebih menentukan nasib berita dibanding kualitas jurnalistik, kesehatan pers sering terdengar lebih sebagai harapan ketimbang kenyataan.

Kedaulatan ekonomi pers pun kerap dibicarakan seolah sudah di depan mata. Padahal, selama ekosistem media masih bergantung pada segelintir kekuatan modal dan arus distribusi informasi dikuasai platform asing, kata “berdaulat” terasa lebih sebagai cita-cita panjang daripada kondisi hari ini.

Tanpa pers yang benar-benar mandiri, fungsi kontrol terhadap kekuasaan mudah melemah. Kritik menjadi tumpul, pengawasan longgar, dan publik akhirnya disuguhi informasi yang aman bagi penguasa—bukan yang penting bagi masyarakat. Dari titik itulah, bangsa kuat berisiko tinggal slogan upacara.

Di era banjir informasi, setiap orang bisa menjadi penyampai kabar. Namun tidak semua mau repot memeriksa kebenaran. Di sinilah pers profesional seharusnya berdiri paling depan: tidak sekadar cepat, tetapi tepat. Tidak sekadar ramai, tetapi dapat dipercaya. Ketika fungsi ini ikut larut dalam arus sensasi, publik kehilangan kompasnya.

Kepercayaan adalah satu-satunya mata uang sejati yang dimiliki pers. Sekali habis, tidak ada bailout. Tidak ada subsidi kepercayaan. Yang ada hanya pembaca yang pergi perlahan—tanpa pengumuman.

Hari Pers Nasional semestinya bukan sekadar seremoni tahunan dengan spanduk dan pidato optimistis. Ia harus menjadi momen jujur untuk bertanya:

apakah pers kita benar-benar sehat, atau hanya terlihat sibuk?

apakah sudah berdaulat, atau sekadar bertahan?

apakah masih berpihak pada publik, atau mulai nyaman berada dekat kekuasaan?

Tantangan ke depan jelas tidak ringan. Kecerdasan buatan, perubahan perilaku pembaca, dan disrupsi bisnis media akan terus mengguncang. Adaptasi memang wajib. Namun jika dalam prosesnya nilai-nilai dasar jurnalistik ikut dikorbankan, yang tersisa bukan transformasi—melainkan kehilangan arah.

Pada akhirnya, harapan terhadap pers sebenarnya sederhana: tetap jujur, tetap independen, dan tetap berpihak pada kepentingan publik. Tidak muluk. Justru karena itulah, ia paling sulit dijaga.

Selamat Hari Pers Nasional.

Semoga pers Indonesia bukan hanya panjang umur, tetapi benar-benar sehat.

0 Komentar