![]() |
“Dulu setiap selesai salat, ada perasmanan buat masyarakat umum, buat warga sekitar. Tamu undangan atau pejabat juga ada tempatnya masing-masing. Tapi sekarang? Boro-boro daging kurban, perasmanan juga gak ada,” celetuk seorang warga di halaman masjid, disambut keluhan senada dari warga lainnya.
Warga mengaku heran karena tahun-tahun sebelumnya mereka selalu menerima daging kurban. Namun kali ini, tak sepotong pun dibagikan kepada masyarakat yang tinggal hanya beberapa meter dari masjid megah itu.
“Kenapa yang jauh bisa dapat, yang dekat malah tidak? Kami ini tetangga masjid, bukan orang asing. Tapi malah diperlakukan seperti tak ada,” ujar seorang ibu rumah tangga yang tinggal di lingkungan sekitar KP3B.
Kekecewaan itu semakin membuncah setelah diketahui bahwa hewan-hewan kurban yang dikumpulkan di Masjid Raya Al-Bantani justru dikirim ke kantor-kantor pemerintahan dan lembaga formal lainnya. Di antaranya Kejaksaan Tinggi (Kejati), Polres, Pengadilan, serta beberapa pondok pesantren dan yayasan.
Hal ini dibenarkan oleh dua petugas kebersihan di lingkungan KP3B, Udin dan Gunawan, yang ditugaskan langsung untuk mengantar hewan-hewan kurban tersebut. “Iya, kami yang nganterin hewannya. Ke kantor-kantor dan ponpes juga. Gak ada yang dipotong di sini (masjid), semua langsung dikirim,” ujar keduanya saat dimintai keterangan.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Banten, Tri Nurtopo, juga mengatakan hal serupa. “Ini tidak dipotong di sini, langsung dikirim ke tempat-tempat seperti pondok pesantren, Kejati, Polres, dan Pengadilan,” katanya ketika ditanya warga pada Kamis pagi (6/6).
Padahal, dalam pengumuman resmi usai Salat Idul Adha, panitia menyatakan bahwa distribusi daging akan dilakukan kepada yayasan, lembaga pendidikan, pondok pesantren, dan organisasi masyarakat. Kenyataannya, masyarakat yang tinggal berdampingan dengan masjid tersebut justru tidak kebagian apa-apa, bahkan tidak mendapat informasi apapun soal jumlah hewan maupun siapa saja penerima manfaatnya.
“Saya kira minimal warga sekitar dikasih tahu, atau dilibatkan. Ini mah kayak disembunyikan. Gak transparan, gak adil. Padahal masjid ini dibangun dari uang rakyat. Masa rakyatnya malah ditinggalin?” ucap seorang warga lainnya yang ikut berkumpul di halaman masjid.
Kritik serupa juga datang dari salah satu tokoh masyarakat setempat, yang membenarkan kekecewaan warga soal pembagian kurban dan hilangnya kebersamaan di hari besar Islam ini.
“Biasanya ada makanan bersama, ada daging untuk warga, itu bentuk kepedulian dan silaturahmi. Tapi tahun ini terasa dingin, sepi, dan penuh tanda tanya. Ini harus jadi bahan evaluasi serius,” ujarnya.
Kini, pertanyaan besar terus bergema di antara warga: untuk siapa sebenarnya kurban di Masjid Raya Al-Bantani itu? Jika masyarakat sekitar yang nyata-nyata hidup berdampingan dan sebagian besar adalah warga dengan kondisi ekonomi sederhana saja tidak disentuh, maka nilai sosial dari ibadah kurban layak dipertanyakan.
Warga menuntut agar pengelolaan kurban di fasilitas publik seperti Masjid Raya Al-Bantani dilakukan secara transparan, adil, dan berpihak pada rakyat kecil, bukan hanya pada instansi elit dan lembaga formal. Karena bila daging kurban hanya mengalir ke arah kekuasaan, maka sejatinya ia bukan lagi ibadah, melainkan cermin kesenjangan yang dilembagakan.( Tim media)







0 Komentar